Relikui Kematian atau
the Deathly Hallows adalah tiga benda pusaka sihir fiksi yang diceritakan dalam buku
Harry Potter dan Relikui Kematian karya J. K. Rowling dan menjadi judul dari novel tersebut.
Menurut penulis J. K. Rowling, sumber ide mengenai ketiga benda ini "mungkin" adalah kisah
The Pardoner's Tale bagian dari
The Canterbury Tales karya Geoffrey Chaucer.
Simbol Relikui Kematian
Relikui Kematian ditampilkan dalam novel ini dalam simbol yang digambarkan sebagai sebuah lingkaran di dalam segitiga sama sisi, dan keduanya terbagi dua dengan sebuah garis vertikal.
Lingkaran ini melambangkan Batu Kebangkitan, segi tiga melambangkan
Jubah Gaib, dan garis vertikal menggambarkan Tongkat sihir Elder.Menurut karakter Xenophilius Lovegood, ayah dari kawan Harry Potter, Luna Lovegood, editor dari majalah fiksi
The Quibbler,
simbol ini digunakan oleh para penyihir yang mempercayai legenda
Relikui Kematian. Karena simbol ini juga sering digunakan oleh Gellert Grindelwald, seorang penyihir hitam dalam kisah yang melatarbelakangi novel ini, banyak penyihir yang keliru menganggapnya sebagai simbol Sihir Hitam. Dalam acara resepsi Bill dan Fleur Weasley, misalnya, Viktor Krum tampak terkejut ketika melihat Xenophilius memakai simbol yang mengerikan sejak enam puluh tahun silam.
KISAH TIGA SAUDARA
“Pada zaman dahulu ada tiga saudara, kakak beradik laki-laki, yang berkelana melewati jalan berliku-liku di senja hari–.
Pada waktunya, ketiga saudara ini telah tiba di sungai yang terlalu
dalam untuk diseberangi dengan berjalan kaki dan terlalu berbahaya untuk
diseberangi dengan berenang. Meskipun demikian, ketiga saudara ini
menguasai ilmu sihir, maka mereka tinggal melambaikan tongkat sihir
mereka dan sebuah jembatan muncul di atas air yang berbahaya itu. Mereka
sudah tiba di tengah jembatan ketika ternyata jalan mereka dihalangi
oleh sosok berkerudung.
Dan Kematian berbicara kepada mereka—
Dia marah karena kehilangan tiga korban baru, karena para pengelana
biasanya tenggelam di sungai. Tetapi Kematian licik. Dia berpura-pura
memberi selamat kepada ketiga saudara ini atas sihir mereka, dan berkata
masing-masing berhak mendapatkan hadiah karena telah cukup pintar
untuk menghindarinya.
Maka si sulung, yang suka bertempur, meminta tongkat sihir yang lebih
hebat daripada semua tongkat sihir yang ada; tongkat sihir yang harus
selalu memenangkan duel bagi pemiliknya, tongkat sihir yang layak
diterima penyihir yang telah mengalahkan Kematian!. Maka Kematian
menyeberang ke sebatang pohon elder di tepi sungai, membuat tongkat
sihir dari dahan yang menggantung di sana, dan memberikannya kepada si
sulung.
Kemudian si tengah, orang yang sombong memutuskan dia ingin
mempermalukan Kematian lebih jauh lagi, dan meminta kekuatan untuk
memanggil yang lain dari Kematian. Maka Kematian memungut sebutir batu
dari tepi sungai dan memberikannya kepada si tengah, dan
memberitahukannya bahwa batu itu akan memiliki kekuatan untuk
mengembalikan orang yang sudah mati.
Kemudian Kematian menanyai si bungsu, apa yang diinginkannya. Si bungsu
ini yang paling rendah hati dan juga paling bijaksana di antara ketiga
kakak-beradik ini, dan dia tidak mempercayai Kematian. Maka dia meminta
sesuatu yang bisa membuatnya melanjutkan perjalanan dari tempat itu
tanpa diikuti oleh Kematian. Dan Kematian, dengan amat sangat enggan,
menyerahkan Jubah Gaib-nya sendiri kepadanya.
Kemudian Kematian menyisih dan mengizinkan ketiga kakak-beradik itu
melanjutkan perjalanan mereka, dan mereka pun melanjutkan perjalanan,
sambil membicarakan dengan takjub petualangan yang telah mereka alami,
dan mengagumi hadiah dari Kematian.
Pada saatnya ketiga kakak-beradik ini berpisah, masing-masing menuju tujuan mereka sendiri-sendiri.
Si sulung berjalan kira-kira seminggu lagi, dan tiba di suatu desa yang
jauh, mencari penyihir kenalannya, dengan siapa dia pernah bertengkar.
Tentu saja, dengan Tongkat Sihir Elder sebagai senjatanya, dia tak
mungkin kalah dalam duel yang terjadi. Meninggalkan musuhnya mati di
lantai, si sulung menuju tempat penginapan. Di sana dia membanggakan
keras-keras kehebatan tongkat sihir yang telah diperoleh dari Kematian
sendiri, dan tentang bagaimana tongkat sihir itu membuatya tak
terkalahkan.
Malam itu juga, seorang penyihir lain mengendap-endap mendatangi si
sulung yang sedang terlelap, bersimbah anggur, di tempat tidurnya.
Pencuri ini mengambil tongkat sihirnya, dan sebagai tambahan, menggorok
leher si sulung.
Maka Kematian mengambil si sulung sebagai miliknya.
Sementara si tengah pulang ke rumahnya, tempat dia hidup sendiri. Dia
mengeluarkan batu yang memiliki kekuatan untuk memanggil orang mati, dan
memutarnya tiga kali dalam tangannya. Betapa heran dan gembiranya dia,
sosok gadis yang dulu pernah diharapkannya untuk dinikahinya, sebelum
gadis itu meninggal dalam usia muda, muncul seketika itu juga di
hadapannya.
Meskipun demikian gadis itu sedih dan dingin, terpisah darinya seolah
oleh sehelai selubung. Walaupun telah kembali ke dunia ornag hidup, dia
sesungguhnya bukan bagian dari dunia ini dan menderita. Akhirnya si
tengah, menjadi gila karena kerinduan yang sia-sia, membunuh diri supaya
bisa benar-benar bergabung dengan gadis itu.
Maka Kematian mengambil si tengah sebagai miliknya.
Namun, meski Kematian mencari si bungsu selama bertahun-tahun, dia tak
pernah berhasil menemukannya. Barulah ketika telah mencapai usia sangat
lanjut, si bungsu membuka Jubah Gaib-nya dan memberikannya kepada
anak-laki-lakinya. Dan kemudian dia menyalami Kematian sebagai teman
lama, dan pergi bersamanya dengan senang, dan sebagai teman sederajat,
mereka meninggalkan kehidupan ini.
Dikutip dari “Harry Potter and The Deathly Hallows” J.K. Rowling, Warner Bross Entertainment Inc, 2007.
Kutipan bahasa Indonesia dari “Harry Potter dan Relikui Kematian”,
alih bahasa; Listiana Srisanti, PT Gramedia Pustaka Utama, Januari 2008.
Identitas Ketiga Saudara
Setelah Hermione melihat simbol Relikui Kematian di makam Ignotus Peverell di Godric's Hollow
dan Harry teringat akan Cincin Marvolo Gaunt yang memiliki lambang
Peverell, mereka menyadari bahwa ketiga bersaudara tersebut adalah
keluarga Peverell: Antioch (yang tertua), Cadmus (yang kedua), dan
Ignotus (yang bungsu). Harry percaya bahwa ia adalah keturunan dari
Ignotus sendiri karena Jubah itu diwariskan di dalam keluarganya.
Belakangan, hal ini dibenarkan oleh roh Albus Dumbledore yang muncul
kepada Harry pada akhir novel ini. Alasan yang sama menyimpulkan bahwa
Voldemort, dari Keluarga Gaunt,
adalah keturunan dari Cadmus. Rowling telah membenarkan bahwa Harry dan
Voldemort memang berhubungan dengan keluarga Peverell dalam sebuah wawancara, sebagaimana umumnya banyak keluarga-keluarga penyihir memiliki leluhur yang sama.
Penanya: Setelah membaca mengenai pemilik asli Relikui
Kematian, Peverell bersaudara, saya ingin tahu apakah Harry dan
Voldemort bersaudara jauh: karena kakek Voldemort mewarisi cincin
bertakhtakan Batu Kebangkitan?
J.K. Rowling: Ya, Harry dan Voldemort memiliki sedikit pertalian
saudara melalui keluarga Peverell. Tentu, hampir semua keluarga penyihir
memiliki pertalian jika kita menelusuri mereka selama berabad-abad.
Sebagaimana dijelaskan dalam buku Relikui Kematian, Peverell bersaudara menurunkan banyak keluarga penyihir.
Pertualangan mencari Relikui Kematian
J.K. Rowling mengungkapkan dalam sebuah wawancara bahwa judul novelnya sebelum dinamai Relikui Kematian direncanakan
Harry Potter and the Peverell Quest.
Di sepanjang novel, banyak penyihir berusaha menemukan ketiga benda
sihir Relikui Kematian, seperti diceritakan oleh Xenophilius. Tapi
rupanya tidak banyak yang sukses menemukannya. Lagi pula, mereka tidak
memiliki bukti di mana letaknya benda-benda tersebut dan sama sekali
tidak memiliki bukti bahwa legenda ini memang benar-benar ada.
- Tongkat Elder kemungkinan adalah
tongkat yang terkuat, dia tidak bisa melukai tuannya namun dapat
berpindah tangan jika tuannya kalah duel, dilucuti atau dibunuh. Agak
bingung sebenarnya dengan perpindahannya yang rumit, tapi seinget aku di
harry potter and the deathly hallows tongkat itu jadi milik sah harry
setelah melucuti Draco Malfoy yang telah membunuh Albus Dumbledore.
Dumbledore mendapat tongkat itu setelah menang berduel dengan Gellert
Grindelwald teman masa kecilnya. Sedang Grindelwald sendiri mencuri
tongkat itu dari Gregorovitch yang merupakan pembuat tongkat sihir dari
Bulgaria saingan Ollivander. Nah, koq bisa ada di Grindelwald? entah
gimana ceritanya tapi setelah Antioch Peverell tewas terbunuh ketika
tidur oleh seorang musuh yang menginginkan tongkat itu, tongkat itu
berpindah-pindah tangan.
- Batu Kebangkitan memiliki kekuatan bagi
pemiliknya untuk melihat dan berkomunikasi dengan mereka yang sudah
meninggal. Entah bagaimana ceritanya semenjak Cadmus Peverell meninggal,
batu ini menjadi milik Marvolo Gaunt dalam bentuk batu mata cincinnya.
Keluarga Gaunt itu sendiri adalah garis terakhir Salazar Slytherin maka
cincin itu adalah salah dua dari peninggalan keluarga Slytherin selain
liontin emas. Marvolo Gaunt mewariskan cincin itu pada anak laki-lakinya
Morfin Gaunt yang sekaligus paman Voldemort. Udah tahu kan kalo
Voldemort memang keturunan Slytherin namun ibunya menikah dengan
muggle?! Nah, cincin itu lah yang dipakai Dumbledore hingga tangannya
terkena kutukan Voldemort yang memilih cincin itu menjadi Horcruxnya.
Dumbledore sendiri menemukan cincin itu di reruntuhan rumah keluarga
Gaunt. Lalu ia mewariskannya pada Harry tersembunyi dalam golden snicth
yang pertama ia tanggkap di pertandingan quiddicth.
- Jubah Gaib memiliki kekuatan menutupi
penglihatan dari sang maut, ia tak lekang oleh waktu dan mantra. Mulanya
ia dimiliki oleh Ignotus Peverell dan turun-temurun sampai James
Potter. Nah, bisa ditebak langsung kan kalo ayahnya pasti akan
mewariskan ke Harry.
Agak bingung yaa kq Harry yang
keturunan Ignotus dapet jubah gaib dan Voldemort keturunan Cadmus dengan
batu kebangkitannya, berarti mereka saudara jauh kan?? J.K. Rowling
sendiri menerangkan dalam sebuah wawancara Harry dan Voldemort memang
memiliki sedikit pertalian saudara melalui keluarga Peverell. Dan
tentu, hampir semua keluarga penyihir memiliki pertalian jika kita
menelusuri mereka selama berabad-abad. Sebagaimana dijelaskan dalam
buku Relikui Kematian, Peverell bersaudara menurunkan banyak keluarga penyihir.
sumber : http://chasyide.wordpress.com/2010/11/20/legenda-relikui-kematian-kisah-tiga-saudara-the-tale-of-the-three-brothers/